27 September 2014

PHOTO TANI PERMATETA

BY Unknown No comments


Ehem, untuk kalian para pecinta ataupun penikmat fotografi dunia pertanian, kemarin PERMATETA mengadakan lomba fotografi loh..

Lombanya dilaksanakan sudah dari awal September kemarin dengan deadline paling lambat tanggal 20 September. 

Nah, tanggal 24 September kemarin, diadakan pameran dan voting foto dari para peserta lomba di selasar FTP UGM. Kenapa tanggal 24? Hayoo.. yang mengaku Agrophilic harusnya tahu loh! Jadi, tanggal 24 September itu adalah Hari Tani. Oleh karena itu, lombanya bernama "PHOTOGRAPHY CONTEST OF HARI TANI NASIONAL"

Selain untuk memamerkan kreativitas peserta, pameran itu juga dilakukan untuk menentukan para juara berdasarkan penggemar terbanyak yang memilihnya. Ini beberapa gambar pameran yang diadakan tanggal 24-25 September kemarin.





Sebagai penutup, ini dia salah satu foto peserta lomba "PHOTOGRAPHY CONTEST OF HARI TANI NASIONAL" :)

"Kami pejuang di jaman ini, kami berjuang untuk pangan anak cucu kami, kami para petani! Tak pernah lelah untuk menantang sang mentari pagi, hanya untuk menghidupi rakyat Indonesia tercinta ini. #aku_Indonesia" (Oleh Akbar Permana)




15 September 2014

BULETIN AGRITA REBORN 2014 -AEC 2015-

BY Unknown No comments

Download PDF  DISINI




















06 July 2014

Garpu-ngan Baju

BY Unknown No comments

 Halo Agreaders !!
(Apaan tuh Agreaders ?)
Agreaders ituu , Agrita readers , hoho ^^
Ketemu lagi sama Agritaaaa :D

Kali ini, maman (temennya mimin) mau share foto unik nih. Dapet fotonya darimana? Ya jelas dong dari Fakultas TP kita tercintahhh :*
Duh lupa, pokoknya di lantai WC laki-laki . . .
Kayak gimana bentuk Garpu-ngan Bajunya? Langsung aja cekidot :D









NB      : Foto-foto ini diambil tanggal 25 Mei 2014, jam 10.56
Bagaimana tanggapan kalian?Menurut kalian apakah modus dari semua ini?:? 

24 April 2014

Opini AEC #9

BY Unknown No comments

Akhirnya, inilah akhir dari opini awak AGRITA mengenai AEC :) udah pada baca buletin kami juga kan?tunggu kami dengan opini-opini dan buletin kami ya :) #opiniawakAGRITA dari mbak Arum ^^

Mahasiswa FTP Tanggap AEC
Akan bebas nantinya aliran barang, jasa, modal, sumber daya manusia, dan teknologi seiring dengan memudarnya batas-batas wilayah kenegaraan di kancah ASEAN. Sementara itu, persiapan negeri ini menghadapi AEC hanya tinggal kurang dari setahun lagi.
AEC dibangun di atas tiga pilar utama yang saling terintegrasi, yakni ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community. Yang terbaru, pada KTT ASEAN (ASEAN Summit) ke-22 di Brunei Darussalam April 2013 lalu, berbagai aspek berkenaan dengan ketiga pilar tersebut dibahas, begitu pula aspek-aspek penting lainnya.
Tantangan dan Peluang
Masih teringat, dalam suatu agenda informal yang pernah diselenggarakan oleh Menteri Perindustrian M.S. Hidayat pada 2 Mei 2012 lalu mengenai AEC 2015, salah seorang undangan yaitu Dirut PT Telkom Tbk., Rinaldi Firmansyah mengatakan bahwa  untuk memperkuat pasar domestik, arah pembangunan nasional perlu direposisi agar lebih fokus ke industri pertanian dan manufaktur. Sektor pertanian dan manufaktur bersifat fundamental. Jika daya saing kedua sektor ini rendah, pasar domestik akan terus dibanjiri produk impor. Menurutnya, saat ini ada mata rantai yang hilang (missing link) dalam pembangunan ekonomi nasional.
Meski secara terpisah, hal itu senada dengan pernyataan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM), M. Maksum Machfoedz, dalam suatu wawancara eksklusif 22 Juli 2013 yang lalu. Beliau berpendapat bahwa sektor agro merupakan basis rivalitas negara-negara ASEAN. Kenyataan tersebut tentu saja membawa tantangan serius bagi mahasiswa yang menekuni bidang agro, termasuk mahasiswa FTP. Melalui fungsi agent of change, seharusnya mahasiswa dapat bertindak secara initiative untuk mengaplikasikan program-program bina masyarakat dan program-program lain yang paling tidak dapat mengedukasi masyarakat tentang penting dan gentingnya persiapan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pencapaian pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan tahun 2013 belum sepenuhnya memberi kepuasan bagi segenap khalayak. Beberapa komoditas yang dicanangkan akan mengalami swasembada pangan pada 2013 belum mencapai hasil yang maksimal. Hal itu akan berpengaruh pada kesiapan Indonesia menghadapi AEC 2015 nanti. Daya saing produk-produk lokal masih terkendala masalah distribusi, infrastruktur, alih fungsi lahan, kebijakan pemerintah yang kurang berpihak pada petani, dan sederetan masalah lain yang perlu dibenahi. Meski demikian, tidak perlu melulu AEC dipandang sebagai ancaman, tetapi harus dianggap sebagai tantangan yang harus dihadapi. Mahasiswa dapat berkontribusi sesuai perannya dalam pembangunan ekonomi, tidak perlu menunggu pemerintah turun tangan sebab seyogyanya, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.

17 April 2014

Opini AEC #8

BY Unknown No comments

#OpiniawakAGRITA dari mas Sona Ardyan tok. Yuk mari disimak :)


Konferensi Tingkat Tinggi se-Asia Tenggara yang diselenggarakan di Bali sudah berlaku dua tahun silam, tepatnya pada tanggal 17 November 2011. Dari konferensi itu, dihasilkan persetujuan untuk meresmikan ASEAN Economic Community atau AEC, komunitas yang berfokus di ranah ekonomika dan bisnis se-Asia Tenggara.
Tujuan dari diresmikannya AEC antara lain:
1. Menuju single-market dan production base (arus perdagangan bebas untuk sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal),
2. Menuju penciptaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing tinggi,
3. Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata (region of equitable economic development) melalui pengembangan UKM dan program-program lainnya,
4. Menuju integrasi penuh pada ekonomi global.
AEC akan membuka lebar-lebar pintu bisnis bagi semua yang memiliki keberanian melangkah ke negeri tetangga, termasuk Indonesia. Melebarkan sayap bisnis, khususnya yang berkaitan dengan bisnis se-Asia Tenggara, tentu sangat berpotensi bagi yang dapat mengendalikannya, namun juga amat riskan bagi yang lalai dan tak dapat mengatur bisnisnya.
Ada hal yang cukup menjadi sorotan penulis jika AEC telah resmi, dampak negatif yang terjadi yaitu menipisnya lowongan kerja, gangguan perbankan asing, dan runtuhnya dinasti UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Yang pertama, lowongan kerja semakin tipis karena akan ada 601.000.000 jiwa se-Asia Tenggara yang akan berebut mencari pekerjaan dan tentu saja dengan adanya AEC ini akan semakin banyak orang yang menyeberang ke negeri tetangga untuk mencari nafkah. Sebelum hal tersebut terealisasi saja, Indonesia memiliki banyak tenaga kerja yang belum mendapat pekerjaan, bagaimana jika AEC diresmikan?TKI saja kesulitan untuk mencari kerja di tanah sendiri hingga mereka
rela mengarungi samudera untuk menghidupi keluarga, bagaimana saat AEC
berjalan ?
Yang kedua, banyak bank di Indonesia yang dimiliki oleh orang asing. Meskipun ada sebagian bank lokal, namun jumlahnya tak dapat bersaing dengan kepemilikan orang asing atau yang semi-asing. Mengingat banyak bank di luar Indonesia yang cukup menarik minat rakyat kita, bagaimana jadinya jika akses ke bank asing lebih dipermudah dengan adanya AEC?
Yang ketiga, tentu dampak kurang baik akan dirasakan oleh pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah, atau biasa disebut dengan UMKM. Dampak negatifnya memang tidak langsung dirasakan, namun akan terasa apabila pengusaha-pengusaha luar Indonesia melakukan ekspansi bisnis di ranah yang sudah diduduki pemilik UMKM, sedikit demi sedikit pemilik UMKM lokal akan tergeser dan bisa saja kehilangan wilayah kerjanya. (ard)